Hatiku Tak Akan Beku

Bagiku, cinta adalah kamu.
Dihari hari seperti ini, rasa jenuh bosan, kesal, semua bercampur aduk tak menentu.

Mungkin, aku bukan satu – satunya yang pernah merasakannya. Tapi disaat rasa ini datang, menimpa hati yang tak sekuat besi ini, rasanya hanya akulah yang sedang merasakannya.
Harapan. Selalu terbayang harapan – harapan yang menyenangkan jika itu benar benar terjadi. Aku pun bukanlah satu – satunya wanita yang selalu berharap. Meski aku tau, harapan itu hanyalah peluang yang kemungkinannya sangat sangat kecil.
Dulu, disaat semua itu menimpa aku juga seperti sekarang, aku selalu meluapkannya dengan emosi. Aku marah, aku kesal, aku melakukan hal - hal yang tak logis. Aku pun merepotkan banyak orang yang tak tahu apa apa. Aku melampiaskan itu semua dengan menangis, tapi apalah arti tangisan itu. Tangisku hanya membuat aku semakin seperti anak kecil. Yang ada dibenakku hanyalah satu saat itu. Semua yang sudah terucap, segalanya yang sudah dijanjikan, harus terlaksana. Harus terjadi. Jika tidak? Aku lah yang akan nekad untuk melaksanakannya sendirian. Alhasil, aku seperti orang yang tak jelas, tak tahu arah, tak tahu pula kemana akan pergi. Ibarat jika tetap disini aku sakit, jika aku pulang aku akan semakin sakit.
Ya, hal seperti itu yang dulu kulakukan bukan semata – mata karena keegoisanku belaka, itu semua ada alasannya. Lantas apa yang membuat aku begitu? Jawabannya banyak. Sungguh banyak alasannya dan banyak pula faktanya. Semua yang ada dipikiranku saat itu bisa jadi hanya sebuah ketakutan, atau mungkin memang sebuah kenyataan. Salah satu ketakutan yang aku rasakan saat itu ialah takut ‘dia’ akan lupa denganku karena kesibukannya yang bagiku saat itu tak jelas. Aku murka dengan kesibukannya. Aku tak suka ketika melihat dia sibuk dengan apa yang ia lakukan. Mengapa? Mengapa aku bisa sampai seperti itu? Karena salah satu faktornya adalah ada ‘aku yang lain’ disana. Aku yang lain? Maksudnya? Iya. Aku yang lain. Sosok aku yang diperankan oleh orang lain yang dekat dengan dia seperti aku dan dia. Sedekat apa sih hingga kamu seperti itu? Aku tak bisa menceritakan itu semua karena menceritakannya butuh proses untuk mengingatnya. Dan ketika aku mengingatnya, aku semakin sakit. Sakit itu semakin perih. Ya sakit sampai sekarang. 
Kini, aku sadar, apa yang aku lakukan dulu bukan hal yang baik. Mungkin tidak salah. Tapi alangkah lebih baiknya jika aku tidak melakukannya. Lalu apa yang aku lakukan sekarang? Sekarang, aku hanya berusaha menjadi yang lebih baik lagi. Ok, fine. Pernyataan itu adalah kalimat mainstream yang seringkali diucapkan oleh siapapun yang sedang galau maybe, atau mungkin sedang sedih, yang akhirnya semua itu hanya sekedar ucapan. Namun, bagiku itu semua tidak padaku. Aku seseorang yang masih sangat labil. Dan aku tau, semua perkataanku yang kuucapkan sekarang bisa saja beberapa hari kemudian, atau bahkan beberapa menit nanti aku akan berubah pikiran lagi. Nah, itulah yang sedang aku hindari sekarang. Aku perlu waktu untuk meyakinkan diriku mengucapkan hal itu. Itulah sebabnya, kini aku mulai menata ulang isi hatiku, isi pikiranku, dan kutata ulang hidupku. Yah meskipun seringkali juga aku tergoyah, tapi sebisa mungkin aku tegakkan lagi, aku kuatkan lagi dengan apapun. Seperti layaknya lem pada kertas. Ketika kerekatannya sudah tidak kuat lagi dan tidak ada lem disitu, aku harus mencari benda lain untuk menggantikan lemnya. Dengan nasi mungkin? Atau dengan air liur? Hahaha. 
Well, aku pernah membaca sebuah kalimat, paragraf sih, yang menurutku alay tapi itu yang seharusnya dilakukan. Apa isinya? Isinya begini, sebenarnya pakai bahasa inggris sih, tapi indonesia aja yak. Ok, gini isinya. “Ketika kekasihku sedang sibuk dengan apa yang ia kerjakan, aku tidak akan mengganggunya. Aku akan mencari hal lain juga untuk aku kerjakan tanpa harus dengannya.” Simpel kan? Kedengarannya sih agak lebay gitu ya, tapi ya itulah memang seharusnya yang kita lakukan. Bukan malah menganggunya dengan kata – kata manja yang membuat dia akan semakin tidak fokus. 

Hasilnya dia tidak akan mengerjakan tugasnya dengan maksimal. Toh kalau dia berhasil kamu juga kan yang bangga?
So, sekarang aku semakin tahu bagaimana caranya agar aku tidak menjadi sosok yang manja, sosok yang suka mencari perhatian, dan sosok yang membosankan. Mau tahu caranya? Caranya cukup jadikanlah tubuhmu sebagai pengendali dirimu. Jadikanlah otakmu sebagai pengendali pikiranmu. Jadikanlah kaki dan tangan sebagai hal yang menyenangkan, yang akan membawamu k edalam sesuatu yang indah. Indah bagi dirimu dan juga sekitarmu. Banyak sekali hal – hal yang bisa kamu lakukan. Kamu harus tahu apa yang sedang kamu geluti sekarang. Atau kamu juga harus mengerti kamu sedang menjalankan apa sehingga kamu tau apa yang harus kamu lakukan.

Mulailah berpikiran positif kepada siapapun guys. Khususnya kepada kekasihmu. Bertahanlah untuk menjadi sosok yang baik. Janji – janji yang sudah kalian ucapkan berdua diawal, jangan dijadikan sebagai bahan pertengkaran. Tapi jadikanlah hal itu sebagai suatu komitmen. Dimana yang namanya komitmen itu ya harus dijalani oleh semuanya. Kalian pacaran ya berarti komitmen kalian harus dipegang berdua, jangan bertiga loh ya *ups wkwk bercanda.

Well, udah deh segitu dulu aja artikel pertama aku. Sampai jumpa diartikel selanjutnya dan jangan lupa buat stayclose terus di blog aku yaayaa. Buat kamu yang mau request artikel boleh banget. Langsung comment aja ya. Salam kasih salam cinta ! bye bye :*

Komentar